Bulan Muharram adalah salah satu dari empat
bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut
adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala
berfirman:
إِنَّ
عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ
اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya
jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak
Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan
haram” (QS. At Taubah: 36)
Kata Muharram artinya ‘dilarang’.
Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai
bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini
dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk
persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan
haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain
dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Bulan Muharram
memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah
(syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan
bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini
tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan
Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa.
Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram
sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah
sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib,
kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan.
Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ
يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ
نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى
شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ
وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Dari Ibnu Abbas RA,
bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi
berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini
adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan
menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti
syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti
Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya)
untuk berpuasa” (HR Bukhari).
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ
شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ
صَلَاةُ اللَّيْلِ
Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah
saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada
bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib
adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Walaupun ada kesamaan dalam
ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada
umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh
orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar
puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah
puasa hari ‘Asyura.
Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan
dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya
dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua,
berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu
puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10
saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada
hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh
orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun
depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau
meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).
Landasan puasa
tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa
pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika
terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.
Selain
berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan
lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini
memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan
Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.
Demikian
juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak
yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat
mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat
mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan
Muharram.
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem
kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting
bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai
sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah
dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan
dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah
Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah.
Legenda Dan Mitos Muharram
Di
samping keutamaan bulan Muharram yang sumbernya sangat jelas, baik
disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi banyak juga legenda dan
mitos yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari ‘Asyura.
Beberapa
hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda
bahwa pada hari ‘Asyura Nabi Adam diciptakan, Nabi Nuh as di selamatkan
dari banjir besar, Nabi Ibrahim dilahirkan dan Allah Swt menerima
taubatnya. Pada hari ‘Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi
pada hari ‘Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. Semua
legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga
dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan
khusus untuk hari ‘Asyura.
Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian
hari ‘Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhammad Saw, Husain saat
berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu
peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari ‘Asyura tidak
bisa dikaitkan dengan peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa
kesucian hari ‘Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw
jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan
bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan hari
‘Asyura.
Bid’ah Di Bulan Muharram
Selain
legenda dan mitos yang dikait-kaitkan dengan Muharram, masih sangat
banyak bid’ah yang jauh dari ajaran Islam. Lebih tepat lagi bahwa bid’ah
tersebut merupakan warisan ajaran Hindu dan Budha yang sudah menjadi
tradisi masyarakat Jawa yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran
kepercayaan. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Kejawen.
Dari
segi sistem penanggalan, memang penanggalan dengan sistem peredaran
bulan bukan hanya dipakai oleh umat Islam, tetapi masyarakat Jawa juga
menggunakan penanggalan dengan sistem itu. Dan awal bulannya dinamakan
Suro. Pada hari Jum’at malam Sabtu, 1 Muharram 1428 H bertepatan dengan 1
Suro 1940. Sebenarnya penamaan bulan Suro, diambil dari ’Asyura yang
berarti 10 Muharram. Kemudian sebutan ini menjadi nama bulan pertama
bagi penanggalan Jawa.
Beberapa tradisi dan keyakinan yang
dilakukan sebagian masyarakat Jawa sudah sangat jelas bid’ah dan
syiriknya, seperti Suro diyakini sebagai bulan yang keramat, gawat dan
penuh bala. Maka diadakanlah upacara ruwatan dengan mengirim sesajen
atau tumbal ke laut. Sebagian yang lain dengan cara bersemedi mensucikan
diri bertapa di tempat-tempat sakral (di puncak gunung, tepi laut,
makam, gua, pohon tua, dan sebagainya) dan ada juga yang melakukan
dengan cara lek-lekan ‘berjaga hingga pagi hari’ di tempat-tempat umum
(tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat
Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng
keraton sambil membisu.
Tradisi tidak mengadakan pernikahan,
khitanan dan membangun rumah. Masyarakat berkeyakinan apabila
melangsungkan acara itu maka akan membawa sial dan malapetaka bagi diri
mereka.
Melakukan ritual ibadah tertentu di malam Suro, seperti
selamatan atau syukuran, Shalat Asyuro, membaca Doa Asyuro (dengan
keyakinan tidak akan mati pada tahun tersebut) dan ibadah-ibadah
lainnya. Semua ibadah tersebut merupakan bid’ah (hal baru dalam agama)
dan tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam maupun para sahabatnya. Hadist-hadits yang menerangkan tentang
Shalat Asyuro adalah palsu sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi
dalam kitab al-La’ali al-Masnu’ah.
Tradisi Ngalap Berkah dilakukan
dengan mengunjungi daerah keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti
mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda), melakukan
kirab kerbau bule (kiyai slamet) di keraton Kasunan Solo, thowaf di
tempat-tempat keramat, memandikan benda-benda pusaka, begadang semalam
suntuk dan lain-lainnya. Ini semuanya merupakan kesalahan, sebab suatu
hal boleh dipercaya mempunyai berkah dan manfaat jika dilandasi oleh
dalil syar’i (Al Qur’an dan hadits) atau ada bukti bukti ilmiah yang
menunjukkannya. Semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari kesyirikan
dan kebid’ahan yang membinasakan.
Menyikapi berbagai macam
tradisi, ritual, dan amalan yang jauh dari ajaran Islam, bahkan
cenderung mengarah pada bid’ah, takhayul dan syirik, maka marilah kita
bertobat kepada Allah dan melaksanakan amalan-amalan sunnah di bulan
Muharram seperti puasa. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa puasa pada
hari ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah berlalu.
عَنْ
أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَن صَوْمِ يَوْمِ
عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Dari Abu
Qatadah RA. Rasulullah ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau
bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang
telah lewat.” (HR. Muslim).
Demikian bayan dari Pusat
Konsultasi Syariah Indonesia tentang keutamaan bulan Muharram, sebagai
panduan umat Islam untuk mengisi bulan Muharram. Wallahu ’alam
bishawwab.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian Alam. Semoga Allah melimpahkan
rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW beserta para
keluarga dan sahabatnya. Ya Allah wahai Tuhan kami, segala yang telah
kukerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami
belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan
kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya,
dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat.
Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya
dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini,
berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya
dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Pemurah, wahai Zat
Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan
semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha
Pemurah. Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu
kami Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.
Do'a ini hendaknya dibaca tiga kali pada akhir waktu ashar tanggal 29 atau 30 bulan Dzulhijjah.
Semoga bermanfaat bagi kita semua Amin...
Bercinta dengan pasangan sebenarnya tidak membutuhkan waktu-waktu
khusus. Namun, kesibukan yang super ketat tak jarang membuat kegiatan
bercinta ini harus 'dijadwalkan' pada waktu-waktu tertentu. Berdasarkan polling Cosmpolitan terhadap 100 pasangan di Amerika, berikut beberapa waktu terbaik untuk bercinta.
1. Sabtu pagi
Menurut peserta polling,
Sabtu pagi merupakan waktu yang paling 'seksi' untuk bercinta, karena
Anda tak perlu melakukannya dengan terburu-buru. Di pagi hari, ketika
melihat si dia mulai bangun, buatlah gerakan-gerakan kecil untuk
menggodanya. Godaan kecil ini akan membuatnya terjaga dan membalas
'serangan' Anda.
2. Sebelum tidur
Sekitar 23 persen perserta polling memilih waktu sebelum tidur di hari Sabtu malam untuk bercinta. Agar lebih hot, cobalah untuk menggunakan pakaian dalam yang seksi dan godalah si dia di atas tempat tidur.
3. Saat hujan
Cuaca yang dingin serta suara gemuruh karena hujan yang turun, bisa membangkitkan gairah seks Anda semakin hot. Ingin
sensasi yang lebih "panas"? Coba matikan lampu dan bercintalah dalam
kegelapan. Bercinta dalam gelap, pasti akan menumpulkan indera
penglihatan Anda. Namun, efeknya akan meningkatkan respon dari indera
lainnya melalui sentuhan.
4. Siang hari
Hari
Minggu bukan berarti hari Anda bisa benar-benar beristirahat. Sebuah
jamuan makan siang di luar, kondangan, pertemuan keluarga, atau
aktivitas lainnya akan menguras energi Anda. Untuk meningkatkan mood
tak ada salahnya untuk bercinta di siang hari. Setelah sampai di rumah,
'tangkap' dan tahan si dia di dinding, kemudian beri sedikit ciuman
yang bergairah. Selanjutnya, ia pasti tahu yang Anda mau.
5. Sebelum bekerja
Tak
ada salahnya untuk memulai aktivitas Anda dengan bercinta. Seks yang
menyenangkan akan membuat hari Anda lebih menyenangkan dan merangsang
semangat serta energi Anda di pagi hari.
6. Mandi sore
Mandi
sore merupakan saat yang tepat untuk melepas semua, stres dan penat
setelah seharian bekerja. Agar lebih menyenangkan, ajak si dia untuk
mandi bersama Anda. Suasana yang romantis, rileks dan sedikit rayuan
kecil akan memancing gairahnya di bawah siraman air.
sumber: kompas
Pernahkan terpikirkan untuk membuat jadwal
berhubungan intim dengan suami? Mungkin hal ini terdengar aneh, tidak
romantis dan kurang spontan. Tapi kenapa buru-buru bilang tidak, bila
ternyata ini bisa menjadi solusi buat pernikahan Anda.
Coba pikir Anda menjadwalkan waktu pergi dokter, latihan di gym atau sekadar bertemu dengan teman. Kenapa tidak menulis di agenda pribadi dan bikin janji dengan suami seks nanti malam jam 9.
“Ini
bisa saja solusi untuk pasangan sibuk dalam mempertahankan keintiman,”
kata Janice Epp, Ph.D., Dekan Institute for Advanced Studies of Human
Sexuality, San Francisco, AS.
"Saya sering
melihat banyak pasangan muda yang bekerja 14 hingga 15 jam sehari dan
mereka bertanya-tanya mengapa mereka jadi jarang berhubungan seks dengan
pasangan," kata Epp.
"Lalu pasangan di usia
50-an, 60-an, 70-an dan tidak lagi melihat seks hal yang penting. Mereka
sudah bertahun-tahun menempatkan seks nomor sekian dibandingkan urusan
yang lain."
Meski terdengar aneh membuat jadwal
berhubungan seks bisa menjadi cara terbaik untuk pasangan yang masih
tertarik berhubungan seksual serta menyelamatkan pernikahan dan
kehidupan seks mereka.
Epp menyamakan penjadwalan seks sama dengan menjadwalkan meeting, potong rambut, spa
dsb. Ini tandanya Anda sedang membangun antisipasi bagi hubungan Anda.
"Beberapa orang mengatakan, 'Seks harus spontan!' Bagi saya itu omong
kosong!" ujar Epp sambil tertawa. "Anda membuat rencana, jadwal hal-hal
yang lain, lalu apa bedanya dengan seks."
Anda
harus merencanakan kencan seks pada saat yang tepat. Artinya momen
kalian berdua dalam kondisi prima tak terlalu lelah. Mungkin pagi hari
saat baru bangun tidur, saat mandi bersama atau kenikmatan sesi sore di
akhir pekan.
"Sangat penting bahwa Anda memiliki waktu intim bersama-sama, Terlepas itu
melibatkan seks atau tidak,” kata Epp. Jika hal ini masih juga terasa
janggal buat Anda. Atau lebih parah lagi hasrat terhadap suami sudah
padam semenjak memiliki anak, Anda dapat memulainya dengan kencan.
"Apa
yang diperlukan pasangan memiliki waktu berduaan tanpa ada gangguan,"
lanjut Epp. "Jangan berbicara tentang pekerjaan, anak-anak atau cicilan. Melainkan berpelukan, saling menyentuh, atau memijat. "
Kebersamaan
memungkinkan pasangan untuk membangun kembali keintiman yang memudar
akibat kesibukan sehari-hari. "Setelah menjadi menyenangkan dan indah
lagi, langkah selanjutnya adalah penjadwalan keintiman lebih lama atau
seks,” saran Epp.
Dengan penjadwalan seks dan
berkomitmen untuk menjalankan jadwal tersebut, seks bisa menjadi bagian
yang berharga dan menyenangkan dari hubungan Anda lagi. Ini mungkin
tidak mudah, tapi patut dicoba.
"Seks adalah hal
yang alami, akan tetapi kadang sesuatu yang begitu alami tak dapat
berfungsi tanpa adanya bantuan dan usaha,”pungkasnya.
sumber: kompas
Rasulullah SAW
adalah contoh pribadi yang agung, pribadi yang mulia. Beliau diutus
sebagai rahmatan lil’alamin, rahmat bagi semesta alam. Beliau adalah
penutup para Nabi dan contoh bagi semua manusia.
Hal
yang menarik adalah kenapa Rasulullah selalu tersenyum, walaupun beliau
dihina dan dicaci maki oleh kaumnya, bahkan ingin dicelakakan oleh
sebagian orang. Artikel ini akan membahas panjang lebar tentang hal
menarik ini.
Pertama,
Rasulullah mengemban misi yang besar. Masih banyak hal-hal yang harus
difikirkan dan diselesaikan dihadapannya. Masalah ummat dan penyebaran
agama yang menguras banyak tenaga dan waktu harus dilaksanakannya demi
tercapainya hal besar tersebut. Sungguh remeh apabila Beliau goyah jika
ada hal kecil yang menghambat perjuangannya. Di depan mata Beliau
terdapat berjuta planning dan harapan yang harus dicapainya untuk jangka
waktu yang Beliau rancang. Harapan dan cita-cita harus Beliau tuntaskan
bersama para sahabat-sahabatnya. Apabila masalah kecil itu menggetarkan
langkahnya maka misi agung itu tidak akan tercapailah seperti sekarang
ini. Harapan dan cita-cita Beliau mengalahkan berjuta cercaan dan hinaan
yang dihujamkan kepada insan yang mulia ini.
Kedua,
Rasulullah saw adalah pribadi yang agung. Seorang yang berkepribadian
agung mempunyai jiwa yang besar. Seorang berjiwa besar akan mudah
memaafkan kesalahan orang lain, karena hatinya yang luas bagaikan
samudra. Seperti dikutip dari perkataan Aa’ Gym jiwa orang yang besar
ibarat sebuah lapangan yang amat luas, apabila terdapat ular dan
binatang berbahaya lainnya masih ada lahan lapangan yang lainnya untuk
bergerak, sebaliknya jiwa orang yang kerdil akan merasakan sesak apabila
terdapat sedikit saja gangguan bagi dirinya, orang lebih sedikit dari
dia adalah cobaan baginya, tersinggung sedikit adalah besar baginya, dan
masalah kecil ia besar-besarkan. Rasulullah adalah contoh tauladan
dalam jiwa yang agung. Beliau adalah orang yang pemaaf dan mudah
memaafkan. Beliau marah apabila hak Allah di injak-injak. Dalam suatu
riwayat dikatakan dari Aisyah ra: “Ketika aku meletakkan gambar
diruanganku aku melihat wajah Rasulullah merah padam dan beliau berkata:
“Wahai Aisyah, orang yang paling berat siksaannya pada hari kiamat
adalah orang yang membuat sesuatu menyerupai makhluk Allah.” (H.R.
Muttafaqq Alaih) Begitulah ketegasan Rasulullah dalam menegakkan hak-hak
Allah. Apabila Beliau dihina Beliau bersabar dan apabila hak Allah
dipermainkan maka wajah beliau merah padam.
Ketiga,
senyum adalah lambang pribadi yang optimis dan positif. Rasulullah
adalah insan yang mulia. Manusia terbaik dimuka bumi ini sejak adanya.
Beliau adalah pemimpin agung. Mustahillah seorang pemimpin itu
mencontohkan kepesimisan. Beliau ingin mencontohkan keoptimisan dalam
menggapai cita-cita bagi seluruh ummatnya. Karena Beliau ingin ummatnya
optimis menggapai cita-cita mereka yang mulia. Dan juga senyum
melambangkan pribadi yang positif, tidak ada gunanya marah apabila
Beliau membalas kejahatan orang Yahudi yang melukainya, karena itu akan
membuang tenaga Beliau saja dan masih banyak tugas Beliau di hadapan dan
akan sia-sia untuk suatu perkara yang remeh. Apabila kita marah
sebenarnya yang rugi adalah kita. Termakan tenaga dan waktu untuk
memikirkan batu kerikil-batu kerikil tersebut. Oleh karana itu Allah
mengatakan dalam Kitab-nya “Katakanlah wahai Muhammad: “Matilah dengan
kemarahan kalian” bagi ‘Bithanatan Min Dunikum’ yaitu golongan
yang apabila kalian terkena musibah mereka akan merasakan senang dan
apabila kalain mendapatkan kenikmatan hati mereka akan sakit, maka marah
adalah penyebab yang tepat untuk kematian mereka. (QS. Ali
Imran:118-120)
Begitulah
suri teladan dalam diri Rasulullah, seorang insan yang agung.
Demikianlah tatkala seorang buta Yahudi di pinggiran kota Madinah
mencaci maki Beliau, mengatakan Beliau gila, tetapi Beliau dengan santun
menyuapkan kepalan nasi ke mulut orang tua tersebut. Juga kisah seorang
Yahudi yang sengaja menagih uangnya lebih dari waktu yang mereka
janjikan, yang dia sengaja membuat Beliau marah, tetapi beliau hanya
tersenyum. Dan, juga kisah seorang Yahudi yang selalu meludahkannya pada
setiap pagi, tetapi disaat ia sakit ternyata Rasulullah-lah orang yang
pertama kali mengunjunginya. Sungguh Muhammad Engkau berkepribadian
agung.
Assalamu'alaikum wr. wb.
Marah dan emosi adalah tabiat
manusia. Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk
mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif. Dalam
riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah s.a.w. bersabda "Sebaik-baik orang
adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan
seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai" (H.R.
Ahmad). DAlam riwayat Abu Hurairah dikatakan "Orang yang kuat
tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan
dirinya ketika marah" (H.R. Malik).
Menahan marah bukan pekerjaan
gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin
gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik
ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah
berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja, tapi jika saat itu kita
mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang
kuat.
Cara-cara meredam atau mengendalikan kemarahan :
1.
Membaca Ta'awwudz. Rasulullah bersabda "Ada kalimat kalau diucapkan
niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu "A'uudzu billah
mina-syaithaani-r-rajiim" "Aku berlindung kepada Allah dari godaan
syaitan yang terkutuk" (H.R. Bukhari Muslim).
2. Berwudlu.
Rasulullah bersabda "Kemarahan itu itu dari syetan, sedangkan syetan
tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian
marah berwudlulah" (H.R. Abud Dawud).
3. Duduk. Dalam sebuah
hadist dikatakan"Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang
juga maka bertiduranlah" (H.R. Abu Dawud).
4. Diam. Dalam sebuah
hadist dikatakan "Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit
masalah, kalau kalian marah maka diamlah" (H.R. Ahmad).
5.
Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuahhadist
dikatakan "Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati
manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya
urat darah di
lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu,
maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud)." (H.R.
Tirmidzi)
sumber
Senyum
29 Oct 2012 5:08 AM (13 years ago)
Senyuman yang indah hadir ketika kita bisa melewati berbagai ujian dan
cobaan di dalam hidup ini sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah.
Banyak orang yang lulus disaat mendapat ujian dalam penderitaan namun
justru gagal ketika diuji dengan anugerah dalam bentuk kekayaan, wajah
yang rupawan, kecerdasan yang menyebabkan lalai dan jauh dari Allah
sampai kemudian jatuh sakit, begitulah kasih sayang Allah yang
senantiasa mengingatkan hambaNya. Bersyukurlah bila kita termasuk orang
yang lulus melewati berbagai ujian dan cobaan didalam hidup ini.
Sebagaimana seorang pemuda yang datang ke Rumah Amalia. Dibalik anugerah
kecerdasan dan pandai bergaul membuat hidupnya begitu mudah meraih
impiannya. Begitu lulus kuliah bisa langsung bekerja. Entah bagaimana
dari kecil orang tuanya mendidik dan hidup dilingkungan orang-orang yang
taat beragama, tiba-tiba dirinya terjerumus ke dalam lembah hina.
Godaan hawa nafsu tak mampu dikendalikannya. Imannya benar-benar diuji.
Kian hari kian asyik dalam kenikmatan dunia yang semu. Terperosok ke
dalam lumpur dosa. Tenggelam dalam kehidupan malam. Pergaulan bebas dan
Minuman keras sudah menjadi teman karibnya. Bahkan sholat lima waktu
sudah lama tidak pernah lagi dikerjakan. Badannya kurus, wajahnya pucat,
tak bergairah dalam menjalankan aktifitas, hidupnya terasa hancur.
Setiap malam hatinya selalu cemas & was-was, ketakutan seolah
membayangi disetiap langkahnya.
Suatu ketika mendengarkan suara
adzan Isyak, membuat hatinya tersiksa. Merinding bulu romanya. Hatinya
terasa hancur bagai tertimpa beban yang berton-ton yang membuat remuk
seluruh tulangnya. Air matanya mengalir. Menangis terisak karena hati
begitu terasa perih bagai tersayat-sayat, tanpa terasa terucap lirih,
'Astaghfirullah al adzim, Ya Allah Ampunilah hambaMu ini..' Ditengah
kondisi tubuhnya yang melemah, di dalam tubuhnya terdapat benjolan
ditubuhnya. Benjolan kecil awalnya cuman dua kemudian menjadi empat dan
berikutnya delapan. Benjolan itu dibawanya berobat di rumah sakit.
Dokter menggelengkan kepala, dipikirnya sejenis kutil namun jenis
seperti ini tidak dikenalnya. Air matanya diusapnya berkali-kali. Dalam
kondisi hati yang penuh galau, rizki yang selama ini hanya digunakan
untuk mencari kenikmatan yang semu, ia bertekad bershodaqoh untuk Rumah
Amalia dengan memohon keridhaan Allah.
Kesungguhannya mendekatkan
diri kepada Allah, tak lupa menjalankan ibadah sholat lima waktu dan
meninggalkan semua kebiasaan buruknya. Beberapa hari kemudian
benjolan-benjolan itu mengecil dan menghilang sekalipun masih terlihat
bekasnya. Tubuhnya sudah terlihat bugar dan sehat, penuh semangat dalam
menjalan aktifitasnya. Semua noda dan dosa yang selama ini melekat dalam
tubuhnya seolah rontok. 'Segala Puji Engkau Ya Allah, yang telah
menyembuhkan segala penyakit tubuh dan hatiku.' tuturnya dengan penuh
air mata yang berlinang.
'Janganlah engkau bersikap lemah &
jangan pula bersedih hati, padahal engkaulah orang2 yg paling tinggi
derajatnya, jika engkau orang2 yg beriman.' (QS. Ali Imran : 139).

Sebut saja romantik, anak muda mula tertarik hati. Mungkin yang
diketahui romantik sesama ‘couple’…No..No..No..ini romantik sesama
pasangan suami isteri.. Apa lagi…Jom ramai-ramai kita pakat kahwin.
Isy..Isy..best oo kahwin…kalau tak percaya..cubalah kahwin

.
Rasulullah SAW adalah gedung segala sifat-sifat kesempurnaan yang
sukar dicari tandingannya. Allah membimbing baginda dengan didikan-Nya
yang terbaik. Sehingga Allah berfirman kepada baginda seraya memuji
baginda di dalam surah al-Qalam ayat 4 bermaksud : “
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
Sifat-sifat yang sempurna inlah yang membuat jiwa manusia merasa
dekat dengan Rasulullah SAW. Membuatkan hati mereka mencintai baginda.
Menmpatkan baginda sebagai tumpuan hati. Bahkan berapa ramai yang
dahulunya bersikap keras dengan Nabi SAW berubah menjadi lembut dan
akhirnya masuk Islam setelah terpanah kemuliaan akhlak dan budinya
baginda Nabi SAW.
Kemuliaan ini bukan sekadar lakonan di hadapan manusia. Namun
dibuktikan oleh insan pendamping baginda. Meneliti satu persatu
perbuatan, pertuturan dan lenggok gayanya. Mereka ialah serikandi
rumahtangga baginda Nabi SAW. Sehinggakan kemuliaan akhlak seorang suami
bernama Muhammad bin Abdullah tidak dapat digambarkan oleh Aisyah RA,
lalu menisbahkan akhlaknya dengan akhlak kitab suci al-Quran.
Walaupun Rasulullah seorang panglima perang, pemimpin tertinggi umat
Islam, namun di sisinya terdapat nilai kasih sayang dan jalan kisah yang
cukup romantis antara baginda dan isteri-isterinya. Namun berapa banyak
sunnah ini dilupakan lalu suami masakini menggambarkan dirinya bagaikan
pemegang kuasa keluarga yang perlu sentiasa kelihatan bengis dan penuh
egois.
Siapalah kita berbanding Rasulullah SAW yang jauh kedudukannya lebih
mulia dari segala manusia. Namun atas tawaduk dan romantisnya baginda
membuatkan umat yang membaca kisah cinta baginda bersama isterinya
seolah sedang menghayati novel cinta romantik.
Diberitakan bahawa Rasulullah pernah bermandi air cinta bersama
isterinya. Dalam Sahih Bukhari diriwayatkan bahawa Aisyah berkata
bahawa :
“Aku sering mandi bersama Nabi Muhammad dari satu bekas air yang disebut al-faraq.” Perbuatan
Nabi mandi bersama Aisyah tanpa sebarang tabir penghalang menunjukkan
ianya satu sunnah. Terutamanya setelah melakukan hubungan intim sesama
pasangan.
Romantik gaya Rasulullah SAW boleh diteladani. Walaupun hidup suami
isteri masa kini sentiasa disibukkan dengan pekerjaan. Kita juga boleh
mengambil sunnah-sunnah romantik Rasulullah SAW bermula dari sebelum
keluar bekerja.
Sebagai contoh menghantar isteri ketika hendak keluar rumah seperti
yang dilakukan oleh Nabi SAW kepada isterinya Shafiyyah binti Huyay
sehinggakan Nabi SAW berkata
“Jangan terburu-buru hingga aku mengiringimu (menemani sampai ke pintu)”.
Hadis Bukhari dan Muslim. Bahkan Nabi SAW turut membantu isterinya
menaiki kenderaan. Di dalam Sahih Bukhari dan Muslim menceritakan bahawa
“
Nabi Muhammad SAW duduk di sisi unta baginda. Kemudian baginda
menekukkan lututnya. Lalu isteri baginda Shafiyyah meletakkan kakinya di
atas lutut Nabi Muhammad SAW hingga naik atas unta”. Bukankah ini
sesuai dipraktikkan dengan membuka pintu kepada isteri seperti zaman
memikat isteri dahulu. Ataupun sekali sekala membonceng isteri di
belakang seperti dalam riwayat Bukhari yang menyatakan Anas bin Malik
menceritakan bahawa ketika pulang dari perang Khaibar salah seorang
isteri Rasulullah membonceng di belakangnya.
Apabila waktu cuti hujung minggu atau di malam hari, bawalah isteri
bersiar-siar. Ini bukanlah sekadar tips dari seorang pakar motivasi.
Namun ianya merupakan suatu sunnah romantis Nabi SAW bersama isterinya.
Diberitakan dalam Sahih Bukhari dan Muslim bahawa
“Rasulullah apabila datang waktu malam, baginda berjalan bersama Aisyah dan berbincang-bincang dengannya”. Malah
apabila baginda ingin keluar baginda akan mengundi siapa yang akan
menemaninya untuk keluar bersama. Malah Rasulullah juga membawa Aisyah
untuk makan bersama di luar. Sehinggakan suatu ketika Nabi pernah
menolak pelawaan jirannya yang berbangsa Parsi untuk makan di rumah
mereka sekiranya isterinya Aisyah RA tidak turut diundang bersama.
(Hadis riwayat Muslim) Untuk menambahkan romantis terhadap isteri,
disarankan suami menyuap sendiri makanan ke mulut isterinya. Sepertimana
dalam sahih Bukhari dan Muslim sabda Nabi SAW : “
Sesungguhnya apapun yang kamu nafkahkan, maka hal itu adalah sedekah hingga suapan yang kamu suapkan ke mulut isterimu.” Walaupun
hadis ini berkisar tentang pemberian nafkah, namun bukankah menjalin
ikatan romantik antara suami isteri itu satu tuntutan.
Romantik sesama suami isteri ini semakin malu untuk diamalkan.
Mungkin bagi yang sudah lama berkahwin akan bertambah rasa jelik bermadu
kasih dengan isterinya. Namun jika diteliti, sebenarnya sikap romantis
ini adalah datang dari Nabi SAW. Sayang apabila kita lebih malu
mengamalkan sunnah romantis sesudah berkahwin sedangkan kita tanpa segan
silu melakukannya sebelum ianya dihalalkan.
Sebenarnya, gambaran seorang suami yang garang dan bengis bukanlah
suatu yang datangnya dari agama. Nabi SAW tidak mendidik para isteri
untuk takut kepadanya. Namun didikan sebagai pemimpin rumahtangga yang
hebat membuatkan rasa takut itu bertukar menjadi lebih menghormati.
Nikmat suasana percintaan itu lebih dihargai apabila suami turut meluang
masa bergurau senda dan bermesra seakan-akan baru sehari
diijabkabulkan.
Belaian terhadap isteri dapat memupuk kasih antara sesama pasangan. Nabi SAW dalam satu riwayat Ahmad berkata bahawa
“
Rasulullah tidaklah setiap hari melainkan baginda selalu mengunjungi
isteri-isterinya seorang demi seorang. Rasulullah menghampiri dan
membelai mereka secara bergantian”. Adakalanya romantisnya Nabi SAW
sehinggakan beliau sengaja bermanja dengan menyandarkan kepalanya
kepangkuan isterinya sepertimana yang dipertuturkan Aisyah RA dalam
Sahih Bukhari bahawa
“Nabi SAW membaca al-Quran (mengulang hafalan) dan kepalanya berada di pangkuanku sedangkan aku dalam keadaan haid”. Bahkan amalan ini berlarutan sehingga detik-detik akhir hayat Rasulullah SAW. Aisyah berkata
“ Ketika maut menghampiri Rasulullah SAW, kepala baginda berada diatas pahaku.”Ada
suatu hari ketika Aisyah sedang asyik menyaksikan kanak-kanak bermain
bersama ibu mereka, datang baginda Nabi SAW mengangkat Aisyah. Lalu
baginda mendukung Aisyah di belakang beliau. Aisyah menuturkan bahawa :
“Baginda mendirikanku di belakang dan pipiku di atas pipi baginda. Ku letakkan bahuku di atas bahu Rasulullah SAW”. (Bukhari
dan Muslim). Begitu juga isteri Nabi SAW sentiasa mendapat kucupan
mesra daripada Nabi SAW ketika ingin pergi ke masjid.
Rasulullah bukan seorang yang kaku dan keras. Ia juga seorang manusia
yang mempunyai emosi tersendiri. Pemergian baginda telah membuatkan
kehangatan rasa rindu di kalangan isterinya. Dikala isteri kesunyian,
hadirnya mengungkap keriangan. Sewaktu isteri dalam kedukaan, baginda
bukanlah sekadar pemerhati. Namun baginda juga sebagai ubat kedukaan dan
kesakitan. Diriwayatkan dari Aisyah bahawa :
Nabi Muhammad SAW
adalah orang yang penyayang lagi lembut. Baginda akan menjadi orang yang
sangat lembut dan paling banyak menemani ketika isterinya sakit.” (Bukhari dan Muslim) Hadirnya Nabi SAW mengubat hati para isteri.
Baginda paling banyak bergurau senda bersama isterinya. Suatu hari
datang Saodah (salah seorang isteri Nabi SAW) kerumah Aisyah. Lalu Nabi
SAW duduk diantara Aisyah dan Saodah dan meletakkan kaki beliau diatas
pangkuan mereka. Ketika Aisyah menjemput Saodah makan, ia menolaknya
kerana tidak berselera. Lalu Aisyah berkata :
“(Demi Allah), makanlah atau aku akan mengotori wajahmu”. Saodah menolak dengan berkata :
Aku tidak akan memakannya”.Lalu
Aisyah mengambil makanan dan disapukan ke wajah Saodah. Rasulullah SAW
tertawa. Kemudian Rasulullah menyuruh Saodah membalas semula dengan
mengotori wajah Aisyah. Setelah Saodah mengotori wajah Aisyah,
Rasulullah terus tertawa. (an-Nasai’e, Ibn Abi Dunya) Kisah ini
merupakan senda gurau Nabi SAW bersama isteri-isterinya. Pernah juga
Rasulullah memujuk Aisyah untuk menghilangkan marahnya dengan sengaja
memegang hidung Aisyah seperti dalam riwayat Ibnu Sunni.
Begitu romantisnya rumahtangga Rasulullah SAW. Mungkin inilah rahsia
cinta sejati yang kekal ke akhir hayat Nabi SAW. Beramah mesra, bergurau
senda, belaian dan sentuhan. Sehinggalah ayat-ayat cinta terukir dari
bibir seorang Nabi dengan memanggil panggilan manja terhadap isterinya.
Suara indah memanggil “Ya Humaira” kepada Aisyah yang bermaksud “Wahai
si putih kemerah-merahan atau Mawar merah”. Membuatkan ikatan itu lebih
intim. Adakalanya Nabi SAW memanggil Aisyah dengan singkatan manja “Ya
Aisy” yang bermaksud kehidupan ketika mana beliau menyampaikan salam
daripada Malaikat Jibril untuk Aisyah RA. Dengan membuang huruf terakhir
itu menunjukkan besarnya rasa cinta, kemanjaan dan kesayangan yang
ditonjolkan dari Nabi SAW.
Sesungguhnya bersikap romantis sesama isteri itu adalah sunnah Nabi
SAW. Kita berharap dengan sunnah ini dapat memupuk ikatan yang lebih
erat antara sesama pasangan. Bukanlah sunnah ini suatu yang perlu
dimalukan untuk diamalkan. Kepada suami, ayuh mengikut petunjuk Nabi
dalam berkasih sayang sesama isteri. Andai isteri berasa pelik dari mana
datangnya sikap romantis seorang suami. Adakah suami baru sahaja
selesai menamatkan buku novel cinta Romeo dan Juliet. Jawablah dengan
manja. Romantis ini bukan dari novel biasa, namun romantis ini datangnya
daripada hadis Nabi SAW.
sumber

SEKAPUR SIRIH AL MUQORROBIN
Adalah pergerakan sosial keagamaan
yang mulai dirintis Al Habib Masyhur bin Muhammad bin Thôhâ al Munawwar
pada akhir tahun 1980-an dari hasil perenungan Beliau akan arti
pentingnya sabda Baginda Rosûlulloh SAW. :
أحبوا أولادكم بثلاثة خصال : حب نبيكم وحب أهل بيته وقراءة القرآن .
Maka, Beliau mulai merintis penyusunan al Adzkâr was Sholawât dengan
nama Sholawat Asy Syifâ` yang tersusun dari Rôtibul Haddâd dan Rôtib al
'Aththôs serta kumpulan-kumpulan sholawat yang sekarang diberi nama
Rôtibul Muqorrobin. Dan sampai saat ini pembacaan sholawat tersebut
dijadikan even rutin setiap selapan sekali tepatnya pada hari Ahad Wage
jam 08.30 WIB. Di Kediaman Al Habib Fauzi bin Masyhur Al Munawwar, Jln.
Johar Pegulon Kendal.
Perjuangan Beliau dilanjutkan dengan merintis Taman Penidikan Al Qur-an Al 'Asyimy dengan kitab panduan Qirô-aty.
Disamping itu, yang menjadi program kerja dari Jam'iyyah ini ialah
mengadakan Penggalangan Dana Santunan untuk membantu para anak yatim
piatu guna membantu kebutuhan mereka di tengah masyarakat yang makin
ekstrim, yang mana penggalangan dana tersebut dikelola dan dikoordinasi
Badan I'ânatudh Dhu'afâ` wal Aytâm.
Ajakan ber-mahabbatur rosul
dengan menyebarluaskan pembacaan siroh an nabawiyyah/sejarah Nabi
Muhammad SAW. yang tersusun dalam kitab Simthud Duror karya Al Imam Al
Habib 'Ali bin Muhammad Al Habsyi yang dibaca secara rutin tiap malam
Jum'at di Kediaman Al Habib Muhammad Firdaus bin Masyhur Al Munawwar
dengan alamat PT. EVI Money Changer Jln. Soekarno-Hatta 311 Kendal.
Pengajian Selapanan yang diselenggarakan di tiap-tiap desa wilayah Kabupaten Kendal.
Mendirikan Pon. Pes. Dârul Muqorrobin di dekat maqbaroh beliau (Hb. Mayhur, -red), tepatnya berada di Desa Jetis Kab. Kendal.
Sedangkan AGENDA KEGIATAN TAHUNAN Jam'iyyah ini adalah :
- Ahad Wage di bulan Dzul Qo'dah mengadakan Haul al Habib Masyhur.
- 10 Dzul Hijjah, Menerima dan mengkoordinasi penyembelihan serta pendistribuan hewan kurban.
- Peringatan Tahun Baru Islam pada tanggal 1 Muharrom yang diselenggarakan di Pendopo Alun-Alun Kendal.
- 10 Muharrom/Hari 'Asyuro` mengadakan Santunan Anak Yatim.
- 100 hari Da'wah Safari Maulid Nabi Muhammad SAW. Yang dimulai tanggal
12 Robi'ul Awwal sampai bulan Jumâdil Akhiroh. Kegiatan ini di bagi
menjadi 2 wilayah : Wilayah Barat, Safari Maulid dipimpin oleh Hb. Fauzi
dan Hb. M. Firdaus. Sedang untuk Wilayah Timur dipimpin oleh Hb. Farid
Masyhur Al Munawwar.
- Buka bersama selama 20 hari di bulan Romadhôn.
Semua kegiatan ini diteruskan oleh putera-putera beliau;
1. Al Habib 'Abdullôh Farid bin Masyhur Al Munawwar,
2. Al Habib Fauzi Rizal bin Masyhur Al Munawwar,
3. Al Habib Muhammad Firdaus bin Masyhur Al Munawwar.
sumber
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَى
أَحَدُكُمْ، الْغَائِطَ، فَلَا يَسْتَقْبِل الْقِبْلَةَ، وَلَا يُوَلِّهَا
ظَهْرَهُ، شَرِّقُوا، أَوْ غَرِّبُوا. ,,
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw : “Jika kalian berhajat buang air besar
atau kecil, maka jangan menghadap kiblat, dan jangan membelakanginya,
namun menghadaplah ke barat dan ke timur (arah selain kiblat) (Shahih
Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ
اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا
لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ
قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang terluhur dan
tertinggi atas nikmat iman untuk kita hamba-hambaNya, yang telah
disampaikan iman kepada kita melalui makhluk yang paling dicintaiNya,
makhluk yang menjadi samudera cinta Allah, makhluk yang tersimpan
padanya cinta Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah
subhanahu wata’ala :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
(آل عمران : 31 )
”Katakanlah jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku (Nabi
Muhammad), niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31).
Cinta Allah subhanahu wata’ala tersimpan pada sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga Allah subhanahu wata’ala akan
mengampuni dosa-dosa hambaNya karena mengikuti kekasihNya sayyidina
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu mengikuti
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sesuatu yang diperintah
oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga memenuhi panggilan beliau
merupakan hal yang wajib dalam keadaan apapun, sebagaimana diriwayatkan
di dalam Shahih Al Bukhari ketika seorang sahabat sedang melakukan
shalat, di saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
memanggilnya, namun dia melanjutkan shalatnya kemudian setelah selesai
ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya :
“Kemanakah engkau, aku memanggilmu namun kau tidak juga datang?”, maka ia menjawab :
“Wahai Rasulullah tadi aku sedang melakukan shalat”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
“Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman” :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا
دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ
الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
(الأنفال : 24 )
“ Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan
seruan Rasulullah apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi
kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi
antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan
dikumpulkan”. ( QS. Al Anfaal : 24 )
Maka menjawab panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harus
dijawab, dimana seruan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menghidupkan
jiwa untuk lebih dekat kepada Allah subhanahu wata’ala,untuk lebih suci
dan luhur, serta menjauh dari perbuatan dosa, demikianlah makna dari
setiap panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita ketahui
bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat Yang Maha Tunggal dan Abadi,
yang membuka rahasia-rahasia keluhuran sepanjang waktu dan zaman,
menganugerahkan kenikmatan untuk manusia dalam kehidupan dunia ini,
namun manusia hanya akan merasakannya dalam waktu yang sangat singkat
yang selanjutnya akan meninggalkannya, kemudian kelak di hari kiamat
akan dimintai pertanggungjawaban akan usia yang telah diberikan kepada
mereka selama di dunia, yang telah dipinjami nafas dan jasad dengan
panca inderanya, akan setiap kenikmatan yang diberikan kepada mereka
ketika di dunia. Sehingga keberuntungan besar bagi orang-orang yang
mendapatkan pengampunan dari Allah subhanahu wata’ala, dan mereka itu
adalah orang-orang yang mendatangi dan mengikuti panggilan Allah dan
RasulNya. Adapun kehadiran kita di majelis-majelis seperti ini merupakan
seruan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita untuk
mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala dan menjauhi hal-hal yang
dimurkai Allah, dan jika ada orang yang hadir diantara kita di majelis
ini karena niat yang jelek atau ingin berbuat hal-hal yang membuat Allah
murka, maka ketahuilah bahwa niat buruknya akan menjerumuskannya ke
dalam kehinaan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar (perkataan
atau perbuatan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam),
yang tertulis di dalam kitab
Mamlakah Al Quluub oleh guru
mulia Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim
bin Hafizh bahwa dalam setiap niat baik dari perbuatan manusia maka
Allah subhanahu wata’ala akan membukakan baginya 30 pintu kebaikan,
sebaliknya jika ia berniat buruk dalam suatu perbuatan maka Allah akan
membukakan 30 pintu keburukan baginya. Maka bukalah pintu-pintu kebaikan
itu dengan memperbanyak niat yang baik. Oleh karena itu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“ Sesungguhnya perbuatan (tergantung) dengan niatnya”
Semakin luhur niat seseorang dalam perbuatannya, maka akan semakin
mulia anugerah yang akan didapatkannya dari Allah subhanahu wata’a,
sebaliknya semakin buruk niat dalam perbuatannya maka akan semakin
terjatuh dalam jurang kehinaan. Allah subhanahu wata’ala berfirman :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ، ثُمَّ رَدَدْنَاهُ
أَسْفَلَ سَافِلِينَ ، إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
( التين : 4-6 )
“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada
putus-putusnya”. ( QS. At Tiin : 4-6 )
Sungguh mereka akan dikembalikan kepada sehina-hinanya tempat kecuali
orang-orang yang beriman, dan mereka itu adalah pengikut sayyidina
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mengerjakan kebaikan dengan
tuntunan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana balasan untuk
mereka adalah pahala dari Allah yang tiada terputus. Demikian jauh
perbedaan antara orang yang taat kepada Allah dan orang yang tidak taat
kepadaNya. Maka perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia
akan membuka rahasia rahmat Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana
diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
حُوسِبَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَلَمْ يُوجَدْ لَهُ مِنْ
الْخَيْرِ شَيْءٌ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ رَجُلًا مُوسِرًا وَكَانَ يُخَالِطُ
النَّاسَ وَكَانَ يَأْمُرُ غِلْمَانَهُ أَنْ يَتَجَاوَزُوا عَنْ
الْمُعْسِرِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: نَحْنُ أَحَقُّ بِذَلِكَ
مِنْهُ تَجَاوَزُوا عَنْهُ (صحيح المسلم )
“Akan dihisab seseorang dari umat sebelum kalian, maka tidak
didapati sedikitpun kebaikan pada dirinya kecuali ia adalah orang yang
mempermudah (jika berurusan dengan orang lain), serta ia bergaul dengan
orang-orang, dan ia menyuruh budaknya untuk memberikan kelapangan atau
kemudahan (memaafkan) kepada orang yang dalam kesulitan. Maka, Allah
‘azza wajalla berfirman: “Kami lebih berhak terhadap hal tersebut dari
padanya, berilah kelapangan untuknya (maafkan dia )”. ( Shahih Muslim)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah panutan tunggal
bagi kita, dimana beliau adalah orang yang paling berlemah lembut dari
semua manusia, bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersikap
lemah lembut terhadap orang non muslim, sebagaimana disebutkan dalam
Shahih Al Bukhari ketika seorang pemuda yahudi datang ke rumah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hendak tinggal bersama
beliau kemudian diberinya izin sehingga ia tinggal di rumah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam kesehariannya ia hidup dan makan
serta minum bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun suatu
waktu pemuda tersebut pergi dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, dan setelah ditanya ternyata pemuda itu sedang sakit dan
pulang ke rumahnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang
ke rumahnya, dan mendapatinya dalam keadaan sakaratul maut, kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
“Ucapkanlah لاإله إلا الله محمد رسول الله “,
maka pemuda tersebut memandang ayahnya yang juga seorang yahudi, karena
melihat kebaikan dan kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, ayah pemuda itu berkata :
“Taatilah Abu Al Qasim (Nabi Muhammad)”,
lantas pemuda itu pun mengucapkan لا إله إلا الله محمد رسول الله
kemudian meninggal. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
merasa sangat gembira dan keluar dari rumah itu dengan wajah yang terang
benderang, maka salah seorang sahabat bertanya :
“Wahai Rasulullah, apa yang telah membuatmu sangat gembira?”, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
“ Alhamdulillah pemuda itu telah mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wata’ala”. Sungguh mulia budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Adapun penjelasan singkat dari hadits yang telah kita baca, hadits
tersebut menunjukkan larangan seseorang menghadap atau membelakangi
kiblat di saat membuang hajat. Al Imam An Nawawi di dalam kitab Al
Majmuu’ menjelaskan bahwa yang dimaksud untuk tidak menghadap atau
membelakangi kiblat ketika membuang hajat adalah jika membuang hajat di
tempat yang tidak ada satir (penghalang) seperti di padang yang luas,
sedangkan membuang hajat di tempat yang ada penghalang seperti toilet,
maka menghadap atau membelakangi kiblat adalah hal yang makruh
(dibenci), namun sebagian pendapat mengatakan bahwa hal tersebut mubah
(diperbolehkan).
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Berkenaan dengan masuknya banyak pertanyaan akan hal yang sedang
berlangsung di wilayah Jakarta ini, maka sebagaimana juga telah
disampaikan kabar ini kepada guru mulia Al Habib Umar bin Muhammad bin
Salim bin Hafizh dan beliau menyampaikan bahwa harapan beliau untuk
pemimpin Jakarta adalah seorang pemimpin yang lebih banyak membawa
manfaat bagi kaum muslimin. Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah
subhanahu wata’ala, karena doa dan munajat merupakan satu-satunya
senjata yang terakhir bagi kita umat Islam. Kita berdoa kepada Allah
subhanahu wata’ala semoga Allah memberikan pengampunan atas dosa-dosa
kita, memberikan kesejahteraan dan kedamaian untuk bangsa dan negara
kita, serta dijaga dari fitnah-fitnah yang membuat perpecahan diantara
ummat dan bangsa kita, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ
إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ
إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ
السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا
نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ
تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
sumber

Bismillahirrahmannirahim,
Rasulullah saw bersabda:
“Allah subhana wa Ta'ala itu Maha Penyantun dan Maha Pemurah.. , Dia
merasa malu pada hamba-Nya, jika hamba-Nya mengangkat kedua tangannya,
memohon kepada-Nya, kemudian membiarkan kedua tangan hamba itu kosong
(tidak dikabulkan).”
“Wahai saudaraku, berdirilah di hadapan
Tuhan-mu seperti anak kecil di hadapan ibunya. Setiap kali ia dipukul
oleh ibunya, ia malah bergerak ke arahnya dan setiap kali ia diusir ia
malah mendekatinya. Keadaannya tetap seperti itu sampai sang ibu
mendekapnya " ..
Jadilah kamu (dihadapan Allah) seperti anak
kecil dihadapan orang tuanya yang apabila ia menginginkan sesuatu dari
mereka akan tetapi mereka tidak mengabulkan keinginannya maka ia akan
merengek dihadapan keduanya. Demikian pulalah sebaiknya keadaanmu
dihadapan Allah, apabila kamu telah memohon sesuatu kepada-Nya dan Allah
belum juga mengabulkan permohonanmu, maka bersimpuhlah dan menangislah
dihadapan-Nya ...
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa)
orang yang didalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang
menghilang dari kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai
khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? .” (QS.
An Naml: 62)
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku.
Aku bersamanya ketika berdzikir(mengingat atau menyebut-Ku.
Jika dia berdzikir di dalam hatinya, maka Aku mengingatnya di dalam hati-Ku.
Jika dia mengingat-Ku dalam suatu jamaah, maka Aku akan mengingatnya didalam jamaah yang lebih baik dari jamaahnya(di dunia).
Jika dia mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta.
Jika dia mendekat pada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya selengan.
Jika dia mendekat pada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari.”
Nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya Jibril diberi tugas untuk mengurus segala keperluan anak
Adam. Jika seorang hamba yang kafir berdoa, Allah SWT berfirman kepada
Jibril, “Hai Jibril tunaikanlah keperluannya, Sesungguhnya Aku tidak
suka mendengar permintaannya”.
Dan jika seorang hamba yang
mukmin berdoa, Allah SWT berfirman kepada Jibril, “Hai Jibril, jangan
kau tunaikan dulu keperluannya, sebab Aku senang mendengar
permohonannya”.” (HR. Ibnu An Najjar dari Jabir ra)
Allah subhana wa Ta'ala pun berfirman :
" Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ..
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Al Mukmin: 60)
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat...
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku), agar
mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah:186)
sumber: Strawberry